Kebijakan Rejim Paspor Uni Eropa yang Diskriminatif

Diposting oleh Ahmad Dzakirin On 08.45


Uni Eropa baru saja mengumumkan rejim visa baru yang kontroversial. Kebijakan ini mengijinkan warga Macedonia, Montenegro dan Serbia bepergian ke seluruh negara Uni Eropa tanpa visa, namun secara diskriminatif tidak memasukkan tiga negara Balkan lainnya yang berpenduduk mayoritas Muslim, yakni Bosnia Herzegovina, Albania dan Kosovo yang baru merdeka.  Justru yang disayangkan, pengumuman itu terjadi tepat 5 hari pasca peringatan pembantaian Srebenica di Juli 1995 yang merenggut lebih 8000 Muslim Bosnia dan disusul dengan pembasmian etnis yang menewaskan antara 25 ribu hingga 30 ribu pengungsi  dari wilayah tersebut  atas perintah Jendral Ratco Mladic.   

Rejim visa baru ini tak pelak mengundang perdebatan dan kritik tajam. Kebijakan tersebut dianggap sama buruknya dengan respon pasif Uni Eropa saat itu. Bosnia digempur habis-habisan oleh senjata berat Serbia dalam perang Bosnia 1992-1995 yang menewaskan 250 ribu Muslim Bosnia, namun Uni Eropa tidak berbuat apa-apa untuk mencegah pembantaian tersebut. Selama tiga tahun, Uni Eropa menolak desakan dunia untuk melakukan intervensi pembantaian atas Muslim Bosnia. Bahkan ketika PBB melakukan embargo senjata dalam kenyataannya embargo itu hanya berlaku bagi para pejuang Bosnia.

Para pakar menyatakan bahwa Uni Eropa sedang melakukan hal sama, yakni menghukum rakyat Bosnia karena penolakan warga kroasia Bosnia dan Serbia Bosnia untuk memberikan hak pengeluaran paspor kepada pemerintah Federal.  Partai Hijau dan sayap pemuda JEF (Young European Federalist)  mengkritik tajam keputusan itu dan mengatakan langkah itu hanya akan  menciptakan perpecahan baru di wilayah bekas Yugoslavia.  Daniel Cohn Bendit pemimpin partai Hijau di Parlemen Eropa mengecam rejim visa baru itu sebagai kebijakan hipokrit.  Dia menuduh Uni Eropa secara sengaja memecah belah Eropa Tenggara dan mendiskriminasikan korban pembantaian Sebrenica.

Para pakar dalam parlemen Eropa juga mengecam langkah tersebut dan menggambarkan kebijakan itu sebagai bentuk diskriminasi telanjang atas Muslim Bosnia. Mereka menganggap alasan yang secara resmi disebutkan komisi Uni Eropa tidak mengada-ada. Bosnia belum memiliki sistem paspor  mocrochip yang memuat  data biometric. Alasan itu sendiri terbantahkan karena masih ada jutaan pengguna paspor Uni Eropa yang belum menggunakan paspor biometric. Sebaliknya, para pakar menyatakan, “Satu-satunya alasan tidak masuknya Bosnia dan Kosovo adalah karena tidak ada satu negarapun Uni Eropa yang memperjuangkannya”, tutur  mantan ahli dalam parlemen Uni Eropa. 

Saat  mengumumkan rejim baru ini, komisioner UE, Olli Rehn ditanya apakah dengan diberlakukan kebijakan visa baru ini berarti Mladic, sang jagal  yang berpaspor Serbia akan dapat bepergian bebas ke seluruh negara Uni Eropa sementara  keluarga Bosnia yang menjadi korban kekejamannya justru  dilarang. Rehn serta merta menolak interpretasi tersebut . Dia  mengatakan Uni Eropa tidak akan mendiskriminasikan setiap negara di Balkan manapun termasuk Bosnia dan Kosovo.  Sebaliknya dia menyebutkan bahwa pengecualian bagi Bosnia karena dalam pandangannya negara itu terlalu sibuk dengan wacana nasionalisme dan tidak memfokuskan kepada upaya memenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi bagian Uni Eropa.

Dengan rejim visa baru ini, warga Macedonia, Montenegro dan Serbia dapat bepergian bebas ke seluruh negara Uni Eropa tanpa menggunakan visa mulai 1 Januari mendatang. Proposal ini sendiri masih membutuhkan dukungan secara resmi dari 27 negara uni Eropa dalam sidang Oktober mendatang.

Ada beberapa alasan untuk menyatakan bahwa kebijakan baru Uni Eropa itu bersifat diskriminatif:

pertama, pembatasan visa bagi Bosnia ternyata hanya kepada Muslim Bosnia  bukan kepada etnik Kroasia dan Serbia yang menjadi bagian penduduk Bosnia Herzegovina. Kedua etnik itu selama ini menikmati paspor ganda yang diterbitkan pemerintah Serbia dan Kroasia. Dengan demikian, pembatasan itu hanya berlaku bagi etnis Bosnia. Secara de facto, kriteria etnik sendiri akan dapat memutuskan apakah seseorang dapat menikmati rejim bebas visa atau tidak.

Kedua, Uni Eropa ,mengabaikan fakta bahwa Bosnia Herzgovina berada dalam taraf yang sama dalam perberlakukan sistem biometrik. Kedua negara itu juga meloloskan beberapa regulasi yang berkaitan dengan isu liberalisasi visa.

Ketiga, yang paling menyakitkan, Serbia Bosnia dan Kroasia Bosnia menolak memberikan hak kepada pemerintahan federal di Sarajevo mengeluarkan sistem paspor biometrik. Namun Uni  Eropa sama sekali tidak membantu upaya memperkuat pemerintah federal.

Dalam pernyataan pedasnya,  Cohn Bendit menyatakan bahwa  tindakan Uni Eropa hipokrit dan cacat moral. Uni Eropa telah kehilangan kredibilitasnya karena hanya semakin memperkuat kedudukan etnis Sebia dan Kroasia di Bosnia yang sebetulnya telah menikmati dwi kewarganegaraan sementara menyudutkan etnis Bosnia. Mereka  dulu menderita karena kebijakan Uni  Eropa yang merugikan mereka selama perang di era 90-an. Jika kebijakan liberalisasi visa dianggap sebagai upaya menempa harapan bagi rekonsiliasi maka alih-alih kebijakan Uni Eropa terbaru justru semakin mempertajam  perpecahan dan membangkitkan permusuhan.   (22 Juli 2009)S

(Setahun kemudian, tepatnya 15 Desember 2010, Uni Eropa akhirnya mencabut pembatasan visa bagi Bosnia dan Albania).

0 Komentar

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dan masukan yang konstruktif dibawah ini:

Inspiring Quote of The Day: Toleransi (al Samahah) secara terminologi adalah kemurahan hati, memberi tanpa balas. Dengan kata lain toleransi berarti keramahan dan kelemahlembutan dalam segala hal dan interaksi tanpa mengharap imbalan ataupun balas jasa. Toleransi merupakan karakter dasar Islam dan telah menjadi sifat praktis-realis umat di sepanjang sejarahnya yang agung" (Muhammad Imarah)

TITLE--HERE-HERE

Recent Post

Archive

Song of The Day


Mahir Zain - Sepanjang Hidup Mp3
Mp3-Codes.com

Arsip Blog

Penikmat Blog Ini

Komentar Anda:


ShoutMix chat widget