Menganalisis Apa yang Terjadi di Yaman

Diposting oleh Ahmad Dzakirin On 09.54


*Gary Leupp
Upaya pemboman pesawat oleh Farouk Abdulmutallab, warga Nigeria menjelang Hari Natal mengundang kembali debat eksistensi Yaman sebagai basis bagi terorisme internasional. 

Yaman digambarkan New York Times sebagai “Negara tidak stabil dengan tantangan keamanan yang kompleks dan memiliki komitmen yang belum jelas dalam melawan kelompok ekstrimis yang memusuhi Barat” mendorong ketakutan para pejabat AS. Menurut MiddleEast  News, kepala keamanan nasional Yaman, Mohammed al Anisi menyatakan bahwa aparatnya telah bekerjasama dengan Washington dalam penyerangan atas kamp al Qaeda di sebelah selatan. (Padahal tidak ada kaitannya dengan al-Qaeda dan mereka adalah keompok perlawanan yang menentang rejim Sanaa).

Serangan terbaru di Provinsi Abyan dimaksudkan salah satunya  untuk membunuh Anwar al Awlaki, ulama kelahiran AS yang dilaporkan melakukan kontak lewat email dengan Mayor Nidal Malik Hasan yang menembaki tentara AS. Dia memuji tindakan Hasan di situsnya. Berdasar  pengakuan orang terdekatnya,  dikabarkan al-Awlaki masih hidup. 

“Diperkirakan serangan udara ini juga menewaskan Naser Abdel Karim Wahishi, pemimpin operasi al-Qaeda di Arab Saudi,” tutur Times Online. Namun yang jelas, operasi ini telah merenggut nyawa anak-anak dan mengundang protes besar-besaran yang melibatkan para anggota al-Qaeda dalam aksi terbuka itu. 

Times melaporkan bahwa sementara “Yaman akan selalu menjadi lahan subur bagi sentiment anti Barat….beberapa tahun lalu, kelompok pemberontak dianggap bertanggung jawab atas serangan atas kapal induk USS Cole di 2000 dan dua tahun sebelumnya menculik dan membunuh para turis Barat.  Awal tahun ini, sebuah kelompok yang menamakan dirinya al-Qaeda di Semenanjung Arab muncul di Yaman. Kelompok ini adalah gabungan para pemberontakan dari Arab Saudi dengan para pemberontak dalam negeri yang diduga bertanggung jawab atas serangkaian serangan berantai di Timur Tengah.

Ini berarti aksi militer yang dilakukan pemerintah Yaman atas permintaan AS telah mendorong munculnya eksistensi al-Qaeda yang sebelumnya tidak ada disana.  Al-Qaeda memanfaatkan kebencian dan kemarahan masyarakat atas serangan udara yang banyak merenggut warga sipil.

Al-Qaeda sebenarnya lebih merupakan konsep ketimbang sebuah organisasi. Kelompok ekstrim ini akan terjelmakan berdasarkan situasi politik. Mereka tidak membutuhkan kontak dengan pemimpin pusatnya seperti Osama bin Laden maupun Ayman al Zawahiri. Bin Laden menyadari benar bahwa serangan di 2001 beserta respon yang dilakukan AS telah mengundang kemarahan kaum Muslimin, memperlemah keamanan AS dan mengokohkan keinginannya diantara jutaan pendukungnya. 

Kita tahun bahwa serangan atas Irak berdasar kebohongan. Kebohongan ini tidak hanya mengundang kemarahan dunia (tidak hanya Muslim) namun juga menciptakan munculnya al-Qaeda Zarqawi.  AS menciptakan Zarqawi yang sebelumnya berbeda dengan al-Qaeda. Dia tiba-tiba muncul dan menyatakan menjadi pelayan Bin Laden. Kondisi ini tidak pelak menimbulkan suka cita bagi Osama yang jauh dalam persembunyian. 

Ini adalah keterlibatan kedua Yaman dalam perang yang tidak popular. Hanya bedanya perang kali ini lebih berdampak luas dan merugikan. Afghanistan telah menjadi contoh keberhasilan brilian bin Laden. Sekutunya Taliban kini bangkit dan mengontrol 80 persen Afghanistan, selain itu, sekutu Taliban, Tahrik al Islam membuat pusing pemerintahan sekular Pakistan. 

Dalam konteks inipula, AQAP (kelompok al-Qaeda di Jazirah Arab) muncul menantang rejim Yaman, mengeksploitasi perpecahan etnik di negeri itu, memprovokasi Amerika yang pada akhirnya justru mengundang kemarahan rakyat atas AS. Siklus kekerasan yang terjadi adalah: imoralitas AS yang memecah dunia kedalam dua kubu: pro AS atau Muslim. Ini adalah strategi al-Qaeda yang merusak dan membawa penderitaan bagi Muslim.   (Sebagaimana banyak yang tahu bahwa kemarahan Muslim dapat dihilangkan melalui pengurangan dukungan membabi buta AS atas Israel. Namun Obama sejauh ini tidak menunjukkan keberaniannya).

Lihatlah sejarah hubungan AS dan Yaman pasca 9/11. AS memaksa Presiden Ali Abdullah Saleh untuk ”bersama dengan AS atau melawan AS”. Yaman mengirim tentaranya ke desa Al Hosun, 18 Desember 2001 untuk menangkap Mohammed Hamdi al Ahdal dan 20 lainnya yang dituduh menjadi anggota al Qaeda. Upaya ini berbuah bencana. 18 pasukan pemerintah dan 4 penduduk lainnya tewas namun tak satupun anggota al Qaeda tertangkap.

AS kemudian menuntut Yaman menerima kehadiran 200 pelatih tentara Yaman, yang secara resmi diumumkan 3 Januari 2002. Dick  Cheney setelah bertemu dengan Saleh di bulan Maret menyatakan AS akan memenuhi permintaan pemerintah Yaman. Namun 11 April, Saleh berkata lain di saluran satelit Arab, “Untuk kehadiran para pakar anti terror beserta peralatannya, bukan kami yang meminta, ini adalah permintaan pemerintah Amerika, yang mengatakan kepada kami,’buktikan ketulusan anda dan biarkan para pakar kami masuk.”

Sementara itu, duta besar AS bertindak seperti penguasa kolonial yang membuat banyak tuntutan. Beberapa hari sebelum Cheney berbicara dengan Saleh, Sekjen Konggres Rakyat (GPC) menuduh duta besar Edmon Hull mencampuri urusan dalam negeri dan mengancam mengusirnya. “Sejak dia diangkat (September 2001), duta besar berkelakuan seperti komisioner tinggi, bukan seperti seorang diplomat untuk sebuah negeri yang menentang segala bentuk intervensi Negara asing,” tuturnya kepada Mingguan Al Mithaq. Boleh jadi dia juga katakan bahwa semua tindakannya untuk menjamin pemerintah Yaman tidak menjadi bagian al Qaeda. 

Sebuah kelompok yang menamakan dirinya “Simpatisan Al Qaeda” muncul, dan secara spontan di April 2002 melakukan serangan pemboman yang sebelumnya jarang terjadi. Al Qaeda dalam bentuk lain kini melakukan balas dendam. Banyak diantaranya berasal dari Arab Saudi dan Asia Tengah yang bekerjasama dengan para pejuang lokal. Apa yang kira-kira dapat mengundang simpati kecuali membunuh anak-anak dengan misil?

8 tahun setelah Bush dan Cheney menuntut dan menerima kerjasama Yaman dalam “Perang atas Teror”. Tetangganya Somalia kini menjadi penghubung al Qaeda. Strategi AS tidak berjalan dengan baik. Alih-alih strategi Bin Laden yang justru sukses. 
 


*Artikel Gary Leupp  ada di CounterPunch.org.

0 Komentar

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dan masukan yang konstruktif dibawah ini:

Inspiring Quote of The Day: Toleransi (al Samahah) secara terminologi adalah kemurahan hati, memberi tanpa balas. Dengan kata lain toleransi berarti keramahan dan kelemahlembutan dalam segala hal dan interaksi tanpa mengharap imbalan ataupun balas jasa. Toleransi merupakan karakter dasar Islam dan telah menjadi sifat praktis-realis umat di sepanjang sejarahnya yang agung" (Muhammad Imarah)

TITLE--HERE-HERE

Recent Post

Archive

Song of The Day


Mahir Zain - Sepanjang Hidup Mp3
Mp3-Codes.com

Arsip Blog

Penikmat Blog Ini

Komentar Anda:


ShoutMix chat widget