Privatisasi Perang

Diposting oleh Ahmad Dzakirin On 08.38


*Michael Winship 
Penampilan kembali mantan Wapres Dick Cheney dalam beberapa bulan terakhir ditengah publik bahkan lebih sering ketimbang saat menjabat Wapres menjadi penting.

Cheney kini menabalkan dirinya sebagai oposisi. Tampaknya, Cheney hendak menjadikan dirinya sebagai Nostradamus yang memprediksikan masa depan yang suram karena meninggalkan kebijakan pendahulunya, Bush. Langkah itu akan mendorong terjadinya serangan terorisme di Amerika. Salah satu warisan penting mantan petinggi Gedung Putih ini adalah privatisasi perang selain praktek penyiksaan tahanan di Guantanamo yang secara eufemis disebut, “praktek interogasi yang ditingkatkan”.

Cheney adalah mantan CEO Halliburton, perusahaan enerji bersama anak perusahaannya KBR yang menerima kontrak bernilai milyaran dollar. Perusahaan itu juga memperoleh kontrak pemeliharaan peralatan perang dan pembangunan industri minyak Irak.

Penyelidik Pentagon menuduh hasil pekerjaan perusahaan itu jelek dan mengecewakan serta adanya praktek korupsi. Melaporkan untuk TomDispatch.com, Pratap Chatterjee, penulis buku, ”Halliburton's Army” menyebutkan, “Diawal Mei dalam dengar pendapat di Capitol Hill, Direktur  DCAA (Defense Contract Audit Agency), April G. Stephenson menuturkan kepada Komisi Independen dan Bipartisan Konggres atas Kontrak Masa Perang di Irak dan Afghanistan bahwa komisi ini telah menemukan dan meneruskan 32 kasus mark up, penyuapan dan kemungkinan pelanggaran hukum lainnya kepada Inspektur Jenderal Pentagon.” 

Mayoritas kasus ini berhubungan dengan KBR yang mencapai 43 persen dari total pengeluaran Pentagon di Irak. Satu contohnya, KBR menarik biaya rata-rata 38.000 dollar per satuan untuk “unit perumahan yang dapat dibongkar pasang” di pangkalan militer AS di Irak, padahal kontraktor lainnya berani memberi penawaran 18.000 dollar. Meski adanya permintaan DCAA untuk menunda pembayaran 553 juta dollar karena dianggap bermasalah, Pentagon tetap menggelontorkan 439 juta setelah menerima penjelasan KBR. 

KBR, Halliburton dan perusahaan jasa keamanan, Blackwater menjadi simbolisasi dampak outsourcing perang yang merugikan. Pertanyaannya, beranikah Obama menghentikan praktek ini. 

Berdasarkan statistik Pentagon, dalam delapan bulan, terjadi peningkatan 23 persen jumlah kontraktor keamanan swasta yang bekerja untuk Pentagon di Irak dan 29 persen di Afghanistan. Dan setengah diantaranya dilakukan kontraktor asing. 

Ini berarti –menurut Jeremy Scahill, penulis buku, ‘Blackwater: The Rise of the World's Most Powerful Mercenary Army’, “ada sekitar 242.647 kontraktors yang bekerja di dua perang AS”

Scahill, yang menjalankan situs baru terkenal yang bernama "Rebel Reports," bertutur dengan koleganya Bill Moyers dalam edisi terbaru Jurnal PBS. 

“Apa yang kita lihat adalah sebagai hasil dari kepercayaan yang tinggi kepada kontraktor militer swasta. AS sedang menciptakan sistem baru untuk menjalankan perang”, tuturnya.
Dengan menyewa orang asing sebagai tentara bayaran,”anda  merubah seluruh dunia kedalam medan rekrutmen anda. Anda secara terencana menhubungkan keuntungan perusahaan kedalam eskalasi perang dan menjadikan keuntungan itu bagi perusahaan-perusahaan karena bergabung dalam perang-perang anda.”

“Dengan melakukan hal itu, anda merusakan kebijakan demokrasi AS dan anda juga melanggar kedaulatan negara-negara lain, karena anda menjadikan warga asing sebagai pasukan perang padahal negara bersangkutan tidak terlibat dalam perang”

“Saya merasa bahwa akhir permainan ini adalah disintegrasi aparat keamanan dari pelbagai negara di dunia dan digantikan dengan skenario dimana anda mempunyai perusahaan dengan pasukan keamanan sendiri. Menurut saya, ini akan menjadi perkembangan yang mengkhawatirkan. Namun hal ini baru terjadi dalam skala kecil. Dan saya takutkan kemudian akan membesar.”

Komentar Jeremy Scahill muncul setelah  Letjen Stanley McChrystal yang kini menjabat komandan perang AS di Afghanistan mengatakan bahwa biaya strategi perang di Afghanistan kedepan akan membebani Amerika dan sekutunya NATO milyaran dollar. 

Kenyataannya, menurut dokumen Pentagon bulan lalu, biaya perang di Afghanistan atau lebih sering dijuluki “Perang Obama” tahun depan lebih besar dari perang di Irak.

Presiden menegaskan dalam pidatonya di Kairo bahwa dia tidak ada keinginan untuk menempatkan dan membangun basis militer permanent di Afghanistan. 

Tetapi menurut Jeremy Scahill, “saya kira apa yang kita saksikan dibawah Presiden Barack Obama seperti anggur tua dalam botol baru. Obama sedang mengirim satu pesan kepada dunia namun realitasnya di lapangan ketika berhubungan dengan para kontraktor militer swasta- masih tetap mempertahankan status quo peninggalan era Bush.” Ini pula yang menjadi alasan Dick Cheney tetap mempertahankan eksistensinya di media setelah lengser.



*Michael Winship penulis senior program urusan publik mingguan, Bill Moyers Journal, yang mengudara setiap malam Jumar di PBS.

0 Komentar

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dan masukan yang konstruktif dibawah ini:

Inspiring Quote of The Day: Toleransi (al Samahah) secara terminologi adalah kemurahan hati, memberi tanpa balas. Dengan kata lain toleransi berarti keramahan dan kelemahlembutan dalam segala hal dan interaksi tanpa mengharap imbalan ataupun balas jasa. Toleransi merupakan karakter dasar Islam dan telah menjadi sifat praktis-realis umat di sepanjang sejarahnya yang agung" (Muhammad Imarah)

TITLE--HERE-HERE

Recent Post

Archive

Song of The Day


Mahir Zain - Sepanjang Hidup Mp3
Mp3-Codes.com

Arsip Blog

Penikmat Blog Ini

Komentar Anda:


ShoutMix chat widget