Aliansi Strategis Turki

Diposting oleh Ahmad Dzakirin On 09.33

*Alon Ben-Meir

Ketika Turki melarang Israel ikut  dalam latihan militer Oktober silam, berkembang spekulasi perihal betapa seriusnya ketegangan dua sekutu utama tersebut. Meski demikian hubungan strategis kedua kekuatan superpower itu seharunya melampaui kepentingan bilateral kedua negara itu sendiri. Aliansi keduanya sangat fundamental bagi keseimbangan dan keamanan regional. Meski demikian, kepentingan Turki untuk mengembangkan dan mempertahankan peran kepemimpinan di kawasan tersebut sangat bergantung kepada kemampuan Turki sendiri menjalankan hubungan konstruktif dengan negara-negara Timur dan Barat termasuk didalamnya Israel yang masih menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan perdamaian. 

Negosiasi yang tengah berlangsung antara Iran dan P5+1 (Anggota tetap Dewan Keamanan plus Jerman) telah mencapai kebuntuan dimana Iran tampaknya bersikeras melanjutkan program nuklirnya. Turki berada pada posisi yang sama dengan Israel khawatir dengan agenda  nuklir Iran sehingga tidak diragukan lagi akan mendukung upaya damai untuk mencegah Iran menjadi negara nuklir, namun hubungan dekat Turki -Iran juga tidak diragukan menjadi sangat strategis. 

Ikatan politik dan ekonomi yang semakin membaik dapat memperkuat posisi Turki dalam memediasi penghentian kepemilikan senjata nuklir Iran. Kedudukan Turki sebagai negara mayoritas Muslim akan lebih mudah diterima ketimbang negara-negara Barat. PM Tayyib Erdogan dapat bertemu langsung dengan pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Khameini yang pada saat bersamaan menolak bertemu dengan para pemimpin Barat. Selain itu, Turki juga dapat memainkan peran mediasi tidak resmi dengan berbicara secara langsung dengan Israel, Iran, Rusia, Eropa dan Amerika. Keprihatinan Turki atas pengembangan nuklir Iran dapat dilakukan dengan menawarkan hubungan yang baik dengan semua pihak. 

Untuk memperkuat peran Turki, Turki hendaknya diundang bergabung dalam tim negosiasi P5+1 untuk menampilkan wajah Muslim dalam perundingan. Apalagi, Turki dapat menjadi negara yang lebih cocok bagi kepentingan pemrosesan uranium skala rendah Iran ketimbang Rusia. Oleh karena itu, hubungan strategis Turki dengan Iran dan Turki  dengan Israel akan berperan penting dalam penyelesaian secara integral bagi program nuklir Iran.  

Di 2008, Turki juga melakukan mediasi antara Israel dan Suriah dan hampir membawa kedua belah pihak dalam meja perundingan. Bukan usaha mudah dalam diplomasi internasional. Memburuknya hubungan Turki dengan Israel hanya akan membawa konsekuensi buruk bagi Turki. Turki akan kehilangan status pentingnya dalam menciptakan perdamaian di kawasan tersebut dimata Barat. 

Dalam hemat saya, tidak ada kontradiksi sama sekali bagi Turki untuk menjalin hubungan yang sama baik dengan Suriah maupun Israel. Menjadi sekutu Suriah demikian pula sekutu Israel akan menempatkan Turki dalam posisi menentuan dalam pembicaraan kedepan kedua negara dalam menyelesaikan konflik Dataran Tinggi Golan melalui jalan damai. Presiden Suriah Bashar al Assad sendiri menyadari hal itu. Dalam wawancaranya baru-baru ini, Al-Assad mendesak Turki untuk mempunyai hubungan yang solid dengan Israel jika ingin membantu Damaskus dalam pembicaraan mediasi. 

Ankara tidak memiliki alasan yang kuat untuk meninggalkan Israel jika ingin menjadi perantara yang kuat di kawasan tersebut. Mempertahankan hubungan yang baik dengan semua pihak menjadi syarat utama, terlebih Turki masih berkeinginan menjadi anggota Uni Eropa. Keinginan Netanyahu untuk melibatkan Perancis dalam negosiasi kedepan tidak akan menghilangkan peran signifikan Turki, apalagi Suriah sendiri masih menghendaki Turki menjadi mediator berdampingan dengan Perancis. 

Perselisihan antara Hamas dan Otoritas Palestina menjadi wilayah kritis lain dimana Turki dapat melakukan peran konstruktif. Prospek perdamaian Palestina-Israel sangat tergantung dengan sejauh mana kesepakatan hubungan antara Otoritas Palestina dengan Hamas. Negosiasi damai antara Israel dan Palestina tidak akan mungkin dapat diwujudkan tanpa keterlibatan Hamas. Turki adalah negara pertama yang memberikan pengakuan resmi atas Hamas. Erdogan mengundang Khaled Meshaal ke Ankara dan kini terjalin hubungan yang baik antara keduanya. 

Meskipun ada peran penting Mesir dalam mediasi damai namun peran Turki akan semakin memperkuat upaya Mesir dengan membantu Hamas dan Otoritas Palestina mencapai kesepakatan politik. Meskipun dicap sebagai organisasi teroris oleh Israel namun Israel sendiri berkepentingan terciptanya kondisi aman disekitar perbatasan Gaza, hal serupa yang diinginkan para pemimpin Hamas. Dengan menghindari posisi resmi kwartet yang mensyaratkan Hamas mengakui Israel dulu, meninggalkan terorisme dan menerima semua perjanjian terdahulu sebelum terlibat dalam proses negosiasi, Turki dapat merubah semua persyaratan tersebut. Turki dapat mendorong Hamas berhenti melakukan kekerasan dan menerima insiatif perdamaian Arab. 

Latihan SAR antara Israel, Yordania dan Turki menunjukkan keinginan Turki meredakan ketegangan hubunganya dengan Israel. Sejauh berkaitan dengan kemampuan militernya dalam diplomasi internasional, Turki tidak memiliki partner militer di Timur Tengah yang dapat menandingi Israel. Kemampuan militer Turki akan tergantung kepada kemajuan yang terus menerus dicapainya sehingga menjadi penting tidak hanya bagi kestabilan kawasan namun berperan penting dalam NATO.

Akhirnya, masuknya Turki menjadi anggota Uni Eropa membawa banyak harapan, salah satunya posisi Turki atas negara-negara tetangganya. Masuknya Turki dalam Uni Eropa akan membawa perubahan penting kepada Iran, Suriah dan negara-negara yang berbatasan dengan Uni Eropa baik dalam keamanan nasional, perdagangan dan sektor ekonomi lainnya. Turki sejauh ini melakukan reformasi politik dan sosial dengan baik dalam upayanya memenuhi syarat yang diajukan Uni Eropa. Turki baru saja melakukan rekonsiliasi bersejarah dengan Armenia dan memperkenalkan legislasi baru yang memberi kebebasan politik dan budaya sama halnya dengan warga Turki lainnya. Kemajuan yang paling signifikan ini membawa Turki semakin dekat dengan standar Uni Eropa namun masih dipandang belum cukup hingga menunjukkan kemampuannya dalam mempertahankan hubungan baiknya dengan semua negara tetangganya di kawasan Timur Tengah. Kerjasama strategis dengan Israel dipandang positif baik AS maupun Uni Eropa. Ankara tidak dapat memperbaiki hubungan dengan negara tetangga namun dengan merusak aliansi strategisnya dengan Isreal.

Kolaborasi Israel-Turki dalam militer, ekonomi, intelejen dan keamanan nasional berjalan atas kepentingan saling menguntungkan janga panjang. Hubungan Turki-Israel yang berlangsung sejak 1950 memang mengalami pasang surut namun tetap berjalan dengan baik karena persahabatan tradisional diantara mereka yang telah berlangsung selama berabad-abad. Persahabatan mereka tidak mungkin berubah hanya karena ketidaksepakatan politik yang bersifat temporer.


*Alon Ben-Meir adalah professor hubungan internasional di Center for Global Affairs di NYU. Dia mengajar negosiasi internasional dan studi Timur Tengah. Situsnya: www.alonben-meir.com.

0 Komentar

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dan masukan yang konstruktif dibawah ini:

Inspiring Quote of The Day: Toleransi (al Samahah) secara terminologi adalah kemurahan hati, memberi tanpa balas. Dengan kata lain toleransi berarti keramahan dan kelemahlembutan dalam segala hal dan interaksi tanpa mengharap imbalan ataupun balas jasa. Toleransi merupakan karakter dasar Islam dan telah menjadi sifat praktis-realis umat di sepanjang sejarahnya yang agung" (Muhammad Imarah)

TITLE--HERE-HERE

Recent Post

Archive

Song of The Day


Mahir Zain - Sepanjang Hidup Mp3
Mp3-Codes.com

Arsip Blog

Penikmat Blog Ini

Komentar Anda:


ShoutMix chat widget