Makna Kunjungan SBY ke Iran

Diposting oleh Ahmad Dzakirin On 07.47


*Ahmed Dzakirin
Presiden SBY mengunjungi Iran dalam serangkaian lawatan untuk menghadiri Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konperensi Islam (OKI) di Sinegal, 12-15 Maret 2008. Kunjungan SBY ke Iran belum genap seminggu setelah Indonesia abstain di Dewan Keamanan berkaitan dengan isu sanksi tambahan bagi Iran atas program nuklirnya. “Tidak ada resiko politik dalam lawatan ke Iran”, ujar SBY.  Selanjutnya dia mengatakan bahwa Indonesia tidak tergabung dalam satu pakta politik apapun dan independen menjalankan politik luar negerinya yang bebas dan aktif.

Kunjungan ini tidak memberikan makna bahwa Indonesia tengah bermusuhan dengan AS atau menjalin aliansi dengan Iran melawan AS. Indonesia sebaliknya melakukan diplomasi terukur (concerted diplomacy) dalam menghadapi realitas politik internasional yang timpang karena tidak adanya balance of power. AS selaku adidaya tunggal (hegemon) menjadi tanpa penyeimbang (unchallenged) dan dalam jangka panjang berimplikasi negatif karena cenderung tidak memberikan ruang bagi munculnya potensi ancaman (peer competition). Hubungan antar negara (inter-state relation) menjadi diplomasi satu arah, yakni bandwagoning diplomacy (diplomasi mengekor) kepada AS jika tidak menginginkan implikasi buruk secara politik dan ekonomi.

Pasca Perang Dingin, AS lebih leluasa mengambil kebijakan unilateral atas negara-negara yang dipandang menjadi ancaman AS. Mengutip Fred Kaplan, pasca bubarnya Sovyet, Amerika mengklaim  sebagai adidaya tunggal yang punya hak memerintah dan ditaati, membuat aliansi dan perjanjian jika dibutuhkan serta membatalkan jika dipandang tidak menguntungkan. Repotnya, banyak negara gagal survive (failed state) karena sikap politik konfrontatif atas negara adidaya tersebut atau setidak-tidaknya secara politik merugikan karena posisi dan resources yang tidak seimbang.

Indonesia dalam perspektif akademis tengah menjalankan politik ‘binding’nya Randall Schweller. Sebuah alternatif lain dari sikap politik yang sama sekali tidak menguntungkan, yakni diplomasi konfrontatif (diplomacy of confrontation) atau diplomasi mengekor (bandwagoning diplomacy). Indonesia tetap berhubungan dengan baik dengan sumber ancaman (AS) namun secara cerdas memainkan peran dan kontrol kebijakan yang influensial terhadap sumber ancaman tersebut.  Kunjungan SBY ke Iran dan sebelumnya sikap abstain dapat dinilai sebagai bentuk sikap membatasi diri (pact of restrain) Indonesia kepada mitra baiknya (AS) dalam rangka mitigasi konflik domestik (radikalisme dan impeachment politik) namun juga mempertegas posisi Indonesia dalam politik luar negerinya yang bebas dan aktif. Secara implisit bermakna bahwa Indonesia adalah mitra baik namun bukan sekutu AS.  Politik LN memiliki dimensi idealisme sekaligus pragmatisme. Indonesia aktif mendorong terciptanya tata dunia yang adil dan mensejahterakan namun siap bekerjasama dengan negara manapun sepanjang memberikan manfaat bagi kepentingan nasional. Menurut Patricia Lee Sharpe, ‘Indonesia is no longer puppet’.  Wallahu A’lam.

0 Komentar

Posting Komentar

Silahkan mengisi komentar dan masukan yang konstruktif dibawah ini:

Inspiring Quote of The Day: Toleransi (al Samahah) secara terminologi adalah kemurahan hati, memberi tanpa balas. Dengan kata lain toleransi berarti keramahan dan kelemahlembutan dalam segala hal dan interaksi tanpa mengharap imbalan ataupun balas jasa. Toleransi merupakan karakter dasar Islam dan telah menjadi sifat praktis-realis umat di sepanjang sejarahnya yang agung" (Muhammad Imarah)

TITLE--HERE-HERE

Recent Post

Archive

Song of The Day


Mahir Zain - Sepanjang Hidup Mp3
Mp3-Codes.com

Arsip Blog

Penikmat Blog Ini

Komentar Anda:


ShoutMix chat widget